Ilustrasi penyakit jantung. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi penyakit jantung. (Foto: Istimewa)

Meninggalnya artis peran Ashraf Sinclair, suami artis Bunga Citra Lestari (BCL) membuat berbagai kalangan terhenyak. Bahkan, peristiwa duka itu menjadi trending topik di berbagai media sosial (medsos). Topik serangan jantung yang merenggut nyawa Ashraf Sinclair, kembali ramai diperbincangkan.

Walau penyakit jantung menjadi telah lama jadi fokus pemerintah, tapi prevalensi kasus penyakit tak menular ini menjadi momok kesehatan di masyarakat. Tak terkecuali di Kabupaten Malang. 

Sejak tahun lalu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang melakukan berbagai terobosan untuk meminimalkan jatuhnya korban karena serangan jantung.

Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mencatat terdapat 17.559 warga yang dilaporkan menderita penyakit jantung pada 2019 lalu. Dengan rincian, 9.915 di antaranya mengalami penyakit jantung koroner. Sisanya sebanyak 7.644 mengalami gagal jantung.

Menyikapi kondisi itu, Bupati Malang Sanusi menggandeng George Institute for Global Health, untuk mencegah penyakit tak menular ini menggerogoti warga Kabupaten Malang.

Penelitian difokuskan di empat desa/kelurahan, yaitu Desa Karangduren, Kecamatan Pakisaji, Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi; Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen; dan Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir. Sampling terkait penyakit jantung dilakukan dengan memeriksa lebih dari 24 ribu warga di lokasi tersebut.

"Hasilnya, ada tren kenaikan usia penderita. Sebelumnya menyerang orang usia 40 tahun ke atas, kini usia 30 tahun juga punya risiko tinggi," ucap Sanusi beberapa waktu lalu.

Selain tren kenaikan usia penderita penyakit jantung, dari hasil penelitian itu juga ditemukan hampir 50 persen sampling terkena diabetes melitus (gula darah) atau kencing manis, hipertensi (tekanan darah), kolesterol dan asam urat. Penyakit tidak menular yang bisa berakibat pada stroke dan jantung.

Intaian maut penyakit jantung inilah yang membuat Pemkab Malang pun konsen melakukan pelayanan kesehatan terkait hal itu. Salah satunya dengan meluncurkan Smart Health berbasis digital yang merupakan gawe bareng Pemkab Malang, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB), George Institute Global Health dan Universitas Manchester UK, dalam upaya melawan penyakit  jantung yang berakibat kematian pada warga Kabupaten Malang.

"Tujuannya melawan penyakit tidak menular mematikan di Kabupaten Malang. Selain tentunya program smart health berbasis digital yang bisa diakses melalui smartphone juga sebagai upaya memperbaiki layanan kesehatan secara dini, integral dan menyeluruh kepada masyarakat," ujarnya.

Peristiwa meninggalnya suami BCL karena serangan jantung, semakin memperlihatkan bahaya mematikan dari penyakit tak menular ini. 

Menurut data Dinkes Provinsi Jatim, trend kematian manusia oleh penyakit saat ini, memang mengalami perubahan. Tahun 2015 lalu, penyebab kematian tertinggi masih didominasi penyakit menular 56 persen. Baru penyakit tidak menular 37 persen, sisanya 7 persen disebabkan kecelakaan.

Tapi, saat ini angka kematian karena penyakit tidak menular mencapai 57 persen. Disusul 30 persen oleh penyakit menular dan sisanya 13 persen karena kecelakaan. Di antara penyakit tidak menular, yang mendominasi penyebab kematian tersebut adalah penyakit jantung.

Terpisah, Steering Committee Smart Health The University of Manchester Inggris, Gindo Tampubolon menyampaikan, penyakit jantung kini menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Kabupaten Malang. 

”Satu dari tiga orang dewasa meninggal karena penyakit jantung,” ujarnya waktu itu.

Berbagai peristiwa kematian dan data penyakit jantung inilah yang membuat Pemkab Malang siap melakukan fasilitasi ke masyarakatnya dalam rangka menurunkan risiko penyakit jantung yang menyebabkan kematian.